Blogger Widgets
Showing posts with label common. Show all posts
Showing posts with label common. Show all posts

Mengapa dunia perlu mengagumi orang Jepang?

Tuesday, June 12, 2012 0 comments


Dunia tersentak ketika Jepang diguncang gempa hebat dan diterjang tsunami yang mengerikan dan meluluhlantakkan kota yang bersih nan indah di pantai timur utara Pulau Honshu. Bencana telah menelan ribuan korban jiwa dan harta benda. Namun dari pemandangan yang memilukan dan memiriskan hati itu, ada kekaguman terhadap perilaku dan sikap orang Jepang. Dalam kondisi yang terbatas, mereka masih tetap berusaha untuk tenang, tidak panik, saling menyemangati, bahu membahu dan selalu percaya dengan langkah dan kebijakan pemerintah dalam mengatasi permasalahan. Andai saja tidak terjadi tsunami, berita yang datang bak air bah tentang tragedi Negeri Sakura tidak menjadi headline di media dalam waktu yang cukup lama.
Perilaku dan sikap  mengagumkan yang ditunjukkan orang Jepang telah menjadi prinsip dasar kehidupan yang menjadi kebiasaan dan mendarah daging dalam norma dan etika yang diterapkan baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun ketika menjalankan aktivitas bisnisnya.
 
1. Disiplin dan kemandirian yang tinggi
Disiplin dan kemandirian orang Jepang memang luar biasa. Bangsa Jepang terkenal sebagai bangsa yang sangat disiplin, sehingga wajar apabila mereka dengan cepat dapat menjadi salah satu bangsa yang terkemuka di dunia saat ini.  Disiplin dalam segala hal bagi orang Jepang merupakan prioritas. Mereka sadar sepenuhnya bahwa dengan disiplin akan melancarkan segala urusan dan tidak menjadikan orang lain dirugikan atau disakiti. Banyak contoh yang menggambarkan bagaimana masyarakat Jepang “mendewakan” disiplin, disiplin waktu misalnya.  Bagi orang Jepang, keterlambatan tanpa kabar berarti akan membuat orang lain khawatir dan berfikir  pada hal-hal buruk yang mungkin terjadi seperti kecelakaan, sakit atau halangan yang menyulitkan. Sehingga ketika seseorang tidak bisa menghindari keterlambatan, mereka akan memberikan kabar terlebih dahulu. Apabila mereka membiarkan keterlambatan tanpa pemberitahuan apapun adalah suatu kesalahan besar karena dianggap tidak menghargai perasaan orang lain. Kebiasaan orang Jepang untuk menghindari keterlambatan adalah datang lebih awal dari waktu yang disepakati.

Pepatah Jepang “Kunshi wa hitori otsutsa shinu” (orang hebat selalu menjaga perilakunya, meskipun sedang sendiri) menggambarkan bagaimana orang Jepang mengedepankan disiplin dan tidak mau mempertaruhkan nama baiknya hanya untuk melanggar aturan. Ada sebuah kasus yang cukup menarik bagi penulis untuk menggambarkan hal ini. Jepang merupakan negara yang cukup liberal untuk mengakses hal-hal yang berbau pornografi melalui internet atau medianya. Namun demikian jangan coba-coba mengakses situs-situs porno pada saat jam kerja. Seorang pegawai negeri di Jepang berhasil mengunjungi 780.000 alamat situs porno melalui komputernya saat jam kerja. Akibatnya ia harus rela turun jabatan sekaligus penurunan gaji USD190 setiap bulannya.   Penulis jadi agak heran di negeri yang tidak mendewakan agama sebagai jalan hidupnya tetapi ternyata pelanggaran moralitas pada waktu jam kerja ternyata masih ada sangsinya.  Kira-kira kalau ditempat kita bagaimana ya?
Orang Jepang juga memegang teguh kemandirian dan berusaha untuk tidak bergantung kepada orang lain. Fenomena pengemis nampaknya selama penulis tinggal di Jepang belum pernah sekalipun melihat adanya pengemis yang berkeliaran, yang tentunya bagi beberapa negara Asia termasuk di Indonesia menjadi permasalahan sosial yang  sulit untuk dipecahkan.  Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Di Jepang,  anak-anak usia SD biasanya membawa 3 tas besar yang berisi pakaian, handuk, sepatu, bekal makan siang (bento), buku-buku dan botol minuman. Setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri.
Selepas SMA anak-anak  biasanya akan terpisah dari orangtuanya dan hidup secara mandiri dengan bekerja sampingan atau lebih dikenal dengan istilah arubaito  (kerja paruh waktu) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliahnya. Pada masa ini orang tua masih tetap membantu apabila diperlukan dan bersifat pinjaman. Usia lanjut juga tidak menjadikan orang Jepang hanya duduk dan berleha-leha, di jalanan banyak lansia walaupun sudah agak payah berjalan dengan bantuan gerobak belanjaannya sebagai pegangan tetap menjalankan aktivitasnya untuk pergi berbelanja dan beraktivitas seperti yang lainnya. 

2. Semangat Kerja dan penghargaan yang tinggi terhadap pekerjaan
Orang Jepang memiliki kecenderungan sebagai orang pekerja bahkan terkadang cenderungworkaholic (gila kerja). Pulang cepat adalah sesuatu yang “memalukan” di Jepang dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Orang Jepang sudah terbiasa kerja extra dengan tanpa adanya uang lembur. Mereka terbiasa menghabiskan waktu di tempat kerja dengan mengorbankan waktu bagi keluarganya. Tak aneh kalau orang Jepang suka bekerja keras. Selain merupakan status dan prestise bagi mereka, sejak kecil mereka  sudah terbiasa mendengar kata-kata penyemangat seperti gambatte kudasaiyang artinya berusahalah/berjuanglah atau gambarimashoo yang artinya ayo berusaha.
Penghargaan yang tinggi terhadap pekerjaan, menjadikan orang Jepang  bekerja secara profesional dan fokus terhadap pekerjaan. Mereka tidak meremehkan suatu pekerjaan, karena mereka beranggapan bahwa semua orang akan memberikan kontribusi cukup penting apapun jenis pekerjaannya.
Maka tak heran kalau untuk aktualisasi diri, seorang mantan PNS setelah pensiun bisa beralih menjadi tukang parkir di kampus. Seorang mantan manager multi nasional company setelah pensiun beralih menjadi supir taksi. Walaupun ini sebuah kebetulan yang penulis temui, nampaknya aktualisasi diri orang Jepang diwujudkan dengan tetap bekerja setelah masa pensiunnya.

Sukiyaki

0 comments


Sukiyaki (すき焼き, スキヤキ?) adalah irisan tipis daging sapi, sayur-sayuran, dan tahu di dalam panci besi yang dimasak di atas meja makan dengan cara direbus. Sukiyaki dimakan dengan mencelup irisan daging ke dalam kocokan telur ayam.

Sayur-sayuran untuk Sukiyaki terdiri dari bawang bombay, daun bawang, sawi putih, shungiku (nama daun dari pohon keluarga seruni), jamur shiitake, dan jamur enoki. Sebagai pelengkap ditambahkan ito konnyaku atau shirataki yang berbentuk seperti soun berwarna bening atau sedikit abu-abu.

Sukiyaki memiliki dua versi, Sukiyaki versi daerah Kansai dan Sukiyaki versi daerah Kanto yang berbeda cara penyajian, jenis bumbu dan rasa.

Menurut Sukiyaki versi Kansai, Sukiyaki hanya dimasak dengan bumbu kecap asin dan gula pasir, sedangkan Sukiyaki versi Kanto dimasak menggunakan saus Warishita yang merupakan campuran dashi, kecap asin, gula pasir, dan mirin yang dimasak terlebih dulu.

Menurut cara Kansai, potongan lemak sapi dicairkan di dalam panci sebelum memasukkan irisan daging sapi. Bumbu berupa gula pasir dan kecap asin dituangkan sekaligus dalam jumlah banyak di atas daging yang sudah matang lalu diaduk-aduk dengan sayur-sayuran hingga matang. Menurut cara Kanto, bumbu warishita dididihkan dulu di dalam panci sebelum semua bahan dimasukkan.

Ada pendapat yang diragukan kebenarannya mengatakan Sukiyaki pada mulanya adalah daging sapi yang dipanggang (bahasa Jepang: yaki) di atas cangkul besi tebal yang disebut suki.

Sebelum restorasi Meiji, orang Jepang tidak pernah memakan daging sapi mematuhi larangan agama Buddha yang melarang konsumsi hewan berkaki empat dan hewan yang digunakan untuk pertanian. Di zaman Meiji toko daging yang pertama dibuka di Jepang (tahun 1867), yang diikuti dengan dibukanya restoran Gyunabe.

Sebelum Perang Dunia ke-2, di daerah Kanto masakan ini lebih dikenal dengan nama Gyunabe (牛鍋?, sapi, panci).

Shabu-Shabu

0 comments


Shabu-shabu (しゃぶしゃぶ?) atau shabu shabu adalah makanan Jepang jenis Nabemono berupa irisan sangat tipis daging sapi yang dicelup ke dalam panci khusus berisi air panas di atas meja makan, dan dilambai-lambaikan di dalam kuah untuk beberapa kali sebelum dimakan bersama saus (tare) mengandung wijen yang disebut gomadare atau ponzu. Di dalam panci biasanya juga dimasukkan sayur-sayuran, tahu, atau kuzukiri.

Selain irisan sangat tipis daging sapi, daging lain yang bisa dimakan secara shabu-shabu misalnya daging ayam, daging domba, ikan fugu, gurita dan ikan kakap. Gyūshabu adalah sebutan untuk shabu-shabu daging sapi. Di Hokkaido, shabu-shabu daging domba disebut Ramushabu. Shabu-shabu daging babi disebut Tonshabu atau Butashabu. Di Nagoya dikenal shabu shabu dengan ayam Nagoya Kōchin yang disebut Niwatorishabu.

Di Beijing dan bagian timur laut Tiongkok dikenal masakan bernama shuan yang rou (Hanzi:涮羊肉) berupa irisan tipis daging domba yang dimasak di panci berisi air mendidih dan biasa dinikmati di musim dingin. Masakan ini kemudian dibawa masuk ke Jepang oleh orang Jepang yang pernah tinggal di Manchuria.

Pemilik rumah makan Jūnidanya yang menjual Ochazuke dan Mizutaki di Kyoto mendengar tentang kebiasaan makan di Tiongkok dari orang yang pernah tinggal di sana. Pemilik rumah makan lalu mendapat ide untuk meletakkan irisan tipis daging sapi di atas nasi dan dimakan secara Ochazuke dengan cara menyiramkan teh hijau panas di atasnya.

Pada tahun 1952, restoran Suehiro di Osaka mulai menghidangkan masakan dari irisan tipis yang diberi nama Shabu-shabu dan berhasil mendapatkan merek dagang untuk masakan ini pada tahun 1955.

Pada zaman dulu, shabu-shabu dimasak di atas kompor arang, sehingga di tengah-tengah panci shabu-shabu sengaja dibuat lubang seperti cerobong untuk memasukkan arang. Di Tiongkok, panci semacam ini disebut huo guo zi (Hanzi:火鍋子).

Onigiri

0 comments



Onigiri (おにぎり, 御握り?) (bahasa Indonesia: nasi kepal) adalah nama Jepang untuk makanan berupa nasi yang dipadatkan sewaktu masih hangat sehingga berbentuk segitiga, bulat, atau seperti karung beras. Dikenal juga dengan nama lain Omusubi, istilah yang kabarnya dulu digunakan kalangan wanita di istana kaisar untuk menyebut Onigiri. Onigiri dimakan dengan tangan, tidak memakai sumpit.
Di Indonesia, Onigiri bisa dijumpai di bagian makanan Jepang toko swalayan terkemuka dan di restoran yang menyediakan makanan Jepang. Di negeri Tiongkok, Onigiri dikenal dengan nama fàntuán()
Pada tahun 1987 ditemukan gumpalan butiran nasi yang terkarbonisasi peninggalan zaman Yayoi dari penggalian arkeologi yang dilakukan di Prefektur Ishikawa. Dari nasi berbentuk Onigiri yang sudah terkarbonisasi tersebut ditemukan sisa bekas ditekan-tekan jari tangan manusia. Selain itu, nasi yang dibentuk mirip Onigiri juga ditemukan di situs penggalian Prefektur Kanagawa

Kare Rice

0 comments



Di Jepang, kari disebut Kare (カレー, karē?) dan telah menjadi hidangan yang sangat populer di Jepang. Ciri khas kari Jepang adalah kuahnya yang kental karena ditambahkan tepung dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan kari India.
Beberapa contoh kari dalam masakan Jepang:
  • Karē-raisu (curry rice), kari daging dan sayur-sayuran (kentang, bawang bombay, dan wortel) yang dikuahkan ke nasi
  • Karē udon (udon kuah kari)
  • Karē pan (roti goreng berisi kari daging cincang)
  • Katsu karē (goreng daging babi bersalut tepung panir dengan kuah kari).
Bumbu kari siap pakai berbentuk padat atau bubuk disebut karē-ru (カレールー?, curry roux). Bahan dasar bumbu kari di Jepang adalah tepung dan lemak nabati atau lemak hewani (lemak sapi atau lemak babi).
Kari dikenal orang Jepang pada zaman Meiji setelah Jepang mengakhiri politik isolasi. Kari awalnya adalah makanan Barat yang disajikan untuk pelaut di atas kapal. Kari menjadi populer di Jepang setelah dijadikan ransum di Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Terigu ditambahkan sebagai pengental kuah kari, agar kuah tidak mudah tumpah sewaktu dimakan di atas kapal yang sering dihantam gelombang.

Sayuran untuk kari Jepang adalah bawang bombay, wortel, kentang, dan kadang-kadang seledri. Rasa rempah-rempah dalam kari kadang-kadang dilunakkan dengan penambahan apel atau madu. Daging yang biasa digunakan adalah daging babi, daging sapi, atau daging ayam. Di bagian utara dan timur Jepang, daging untuk kari biasanya adalah daging babi.

Kari di Korea hampir serupa dengan kari Jepang karena berasal dari zaman penjajahan Jepang.

Gyoza

0 comments



Di Jepang kata Gyoza (ギョーザ,ギョウザ) berasal dari pembacaan饺子di Shandong dialek Cina (giaozi) dan ditulis menggunakan sama karakter Cina diucapkan dengan suara Jepang. Pemilihan karakter menunjukkan bahwa firman itu adalah non-Jepang asal.

Perbedaan yang paling menonjol dari gaya Jepang gyoza dari Jiaozi gaya Cina adalah  kaya akan rasa bawang putih , yang kurang terlihat dalam versi Cina, dan fakta bahwa gyoza Jepang sangat ringan dibumbui dengan garam, kedelai, dan bahwa bungkus gyoza jauh lebih tipis. Tentu saja, Jiaozi sangat bervariasi antar daerah bahkan di China, sehingga perbedaan ini tidak selalu besar. 

Mereka biasanya disajikan dengan berbasis kedelai saus tare dibumbui dengan cuka beras dan / atau Rāyu (dikenal sebagai minyak cabai dalam bahasa Inggris, làyóu (辣油) di Cina Resep yang paling umum ditemukan adalah campuran cincang daging babi , kubis , dan Nira ( kucai Cina ), dan minyak wijen , dan / atau bawang putih , dan / atau jahe , yang kemudian dibungkus ke dalam tipis digulung adonan kulit. In essence, gyōza are similar in shape to pierogi . Intinya, gyoza serupa dalam bentuk untuk pierogi .
Gyoza dapat ditemukan di supermarket dan restoran di seluruh Jepang. Ditumis gyoza yang dijual sebagai lauk di banyak ramen dan restoran Cina .

Metode persiapan yang paling populer adalah gaya ditumis disebut Yaki-gyoza (焼き餃子), di mana pertama kali pangsit digoreng pada satu sisi datar, membuat kulit renyah. Then, water is added and the pan sealed with a lid, until the upper part of the gyōza is steamed . Kemudian, air ditambahkan dan panci ditutup dengan tutup, sampai bagian atas gyoza yang dikukus . Other popular methods include boiled Sui-gyōza ( 水餃子 ) and deep fried Age-gyōza ( 揚げ餃子 ).

Metode populer lainnya termasuk direbus Sui-gyoza (饺子) dan digoreng Umur-gyoza (揚げ餃子).

Donburi

0 comments



Donburi (, donburi, don?) adalah makanan Jepang berupa nasi putih dengan berbagai macam lauk di atasnya seperti ikan, daging dan sayur-sayuran berkuah yang dihidangkan di dalam mangkuk besar yang juga disebut donburi. Kuah untuk donburi bergantung pada jenis makanan, tapi pada umumnya berupa dashi dicampur kecap asin dan mirin. Cara makan nasi di dalam mangkuk donburi tidak mempunyai catatan sejarah yang panjang. Unadon baru dikenal pada awal abad-19, sedangkan Fukagawadon baru dikenal pada zaman Edo periode akhir. Gyudon mulai dikenal di periode awal zaman Meiji, sedangkan Uyakodon baru dikenal pada tahun 1891. Pada tahun 1913 mulai dikenal Sōsu Katsudon, sedangkan Katsudon seperti yang dikenal sekarang ini baru ada sejak tahun 1921.



Menurut budaya makan yang dikenal sejak zaman dulu di Jepang, nasi putih harus dihidangkan di dalam mangkuk kecil dengan lauk yang diletakkan di piring terpisah. Makan nasi dengan lauk yang ditaruh di atasnya dianggap tidak sopan, sehingga cara makan dengan meletakkan nasi dalam porsi besar beserta di dalam mangkuk donburi dianggap melanggar aturan. Donburi dianggap cara makan yang praktis karena nasi sudah dihidangkan bersama lauk, sedangkan kuah yang meresap ke dalam nasi dianggap sebagai kelezatan tersendiri. Di Jepang, Donburi dianggap makanan rakyat karena tidak mungkin menikmati nasi dalam mangkuk donburi sambil mematuhi segala macam etiket makan.

Tonkatsu

Monday, June 11, 2012 0 comments




Tonkatsu (豚カツ,とんかつ, atau トンカツ, daging babi potong), adalah makanan Jepang yang terbuat dari potongan daging . Ini terdiri dari dilapisi tepung roti , goreng daging babi potongan daging satu sampai dua sentimeter tebal dan diiris menjadi potongan seukuran gigitan, umumnya disajikan dengan irisan kol dan / atau sup miso . Entah fillet daging babi (ヒレ,penyewaan) atau pinggang babi (ロース, Rosu) dipotong dapat digunakan; daging biasanya asin, dibumbui, dikeruk ringan di tepung , dicelupkan ke dalam telur kocok dan kemudian dilapisi dengan Panko ( tepung roti ) sebelum digoreng. 


Ini diperkenalkan ke Jepang oleh Portugis.  Ini pada awalnya dianggap sebagai jenis yōshoku -Jepang versi dari masakan Eropa ditemukan pada 19-an dan awal 20 abad-dan disebut katsuretsu ( potongan daging ) atau hanya katsu.


Awal katsuretsu biasanya daging sapi, versi babi, mirip dengan Tonkatsu hari ini, dikatakan telah pertama kali disajikan pada 1890 di sebuah restoran Barat makanan di Ginza , Tokyo .  Istilah "Tonkatsu" (babi katsu) diciptakan kembali pada tahun 1930.

Bento

0 comments


Bentō (Masakan)
Bentō (弁当 atau べんとう?) atau o-bentō adalah istilah bahasa Jepang untuk makanan bekal berupa nasi berikut lauk-pauk dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain. Seperti halnya nasi bungkus, bentō bisa dimakan sebagai makan siang, makan malam, atau bekal piknik.
Bentō biasanya dikemas untuk porsi satu orang, walaupun dalam arti luas bisa berarti makanan bekal untuk kelompok atau keluarga. Bento dibeli atau disiapkan sendiri di rumah. Ketika dibeli, bentō sudah dilengkapi dengan sumpit sekali pakai, berikut penyedap rasa yang disesuaikan dengan lauk, seperti kecap asin atau saus uster dalam kemasan mini.



Ciri khas bentō adalah pengaturan jenis lauk dan warna agar sedap dipandang serta mengundang selera. Kemasan bento selalu memiliki tutup, dan wadah bentō bisa berupa kotak atau nampan segi empat dari plastik, kotak roti, atau kotak kayu kerajinan tangan yang dipernis. Ibu rumah tangga di Jepang dianggap perlu terampil menyiapkan bentō, walaupun bentō bisa dibeli di mana-mana. Di Indonesia, hidangan ala bento mulai dipopulerkan jaringan restoran siap saji Hoka-Hoka Bento sejak tahun 1985.



Pada akhir zaman Kamakura, orang Jepang mengenal makanan praktis berupa nasi yang ditanak dan dikeringkan. Makanan ini disebut hoshi-ii (nasi kering) dan dibawa di dalam tas kecil. Hoshi-ii bisa dimakan begitu saja, atau direbus di dalam air sebelum dimakan. Di zaman Azuchi Momoyama (1568-1600), orang sudah mulai senang makan di luar, dan kotak kayu yang dipernis digunakan sebagai wadah membawa makanan. Bentō mulai dikenal sebagai makanan praktis dalam kesempatan hanami atau upacara minum teh.
Pada zaman Edo (1603-1867), kebudayaan bentō semakin meluas di kalangan rakyat banyak. Orang yang bepergian atau berwisata membawa makanan praktis yang disebut koshibentō (bentō di pinggang). Isinya beberapa onigiri yang dibungkus daun bambu, atau nasi di dalam kemasan kotak beranyam dari bambu yang diikatkan di pinggang. Salah satu jenis bentō yang disebut makunouchi bentō populer di kalangan rakyat yang menonton pertunjukan noh dan kabuki. Bentō dimakan sewaktu pergantian layar panggung (maku) sehingga dinamakan makunouchi bentō. Di zaman Edo, cara memasak, mengemas, dan menyiapkan bentō untuk kesempatan hanami dan hinamatsuri sudah diterbitkan dalam buku resep masakan.




Penjualan paket nasi yang disebut ekiben (駅弁, bentō stasiun?) dimulai sejak zaman Meiji. Ekiben dimaksudkan untuk dinikmati di atas kereta, dan sering merupakan hidangan khas dari daerah tempat stasiun kereta api tersebut berada. Stasiun KA Utsunomiya (Prefektur Ibaraki) merupakan salah satu stasiun yang mengklaim sebagai penjual ekiben yang pertama. Pada 16 Juli 1885, di Stasiun KA Utsunomiya dijual ekiben berupa dua buah onigiri berisi umeboshi dan potongan asinan lobak (takuan) dengan pembungkus daun bambu.  Bekal bentō yang dibawa murid dan guru juga mulai populer di zaman Meiji. Jam pelajaran baru selesai di petang hari, dan sekolah-sekolah belum memiliki dapur dan kafetaria yang menyediakan makan siang. Selain bentō berisi nasi, penjual bentō juga mulai menyediakan bentō ala Eropa berisi sandwich.
Pada zaman Taisho (1912 - 1926), perbedaan kaya-miskin yang tajam seusai Perang Dunia I menimbulkan gerakan sosial untuk menghentikan kebiasaan membawa bentō ke sekolah. Bentō dituduh sebagai sarana pamer kekayaan bagi anak orang kaya yang mampu membawa nasi ke sekolah.


Pada awal zaman Showa, kotak dari aluminum untuk membawa bento sangat digemari orang Jepang dan merupakan barang mewah. Setelah Perang Dunia II, tradisi membawa bentō secara berangsur-angsur hilang sejalan dengan semakin banyaknya sekolah yang menyediakan ransum makan siang.
Bentō kembali populer di tahun 1980-an setelah dikenal kemasan kotak plastik polistirena sekali pakai, oven microwave, dan semakin meluasnya toko kelontong 24 jam. Sementara itu, bentō buatan ibu kembali mulai digemari, dan tradisi membawa bentō dari rumah hidup kembali. Keahlian menyiapkan bentō untuk anak-anak merupakan kebanggaan tersendiri bagi ibu rumah tangga. Lauk seperti sosis dan nori dipotong-potong atau digunting untuk dijadikan hiasan, seperti daun, bunga, binatang, hingga karakter anime.

Yatai (warteg di Jepang)

0 comments

Kalau di indonesia ada warteg maka di jepang ada Yatai, jajanan pinggir jalan ini merupakan alternatif makanan orang Jepang terlebih lagi pada musim semi.

Yatai adalah warung makan yang biasanya beraktifitas di musim semi di pinggir2 jalan, dan biasanya berjualan pada sore hari dan tutup pada malam hari atau bahkan biasanya ada yang sampai subuh.



Makanan yang mereka jual biasanya makanan tradisional Jepang , bir dan sake. Yatai ini bisa ditemukan hampir di semua daerah di Jepang, namun Fukuoka menjadi tempat yang paling terkenal akan Yatai ini. Biasanya makanan yang mereka sajikan adalah Yakitori, Oden dan Hakata Ramen yang merupakan makanan kebanggaan bagi masyarakat di Fukuoka.



Makan di Yatai ini menjadi sebuah alternatif yang bagus daripada makan di restoran apabila memperbandingkan harga, karena makan di yatai ini relatif lebih murah dibandingkan dengan makan di restoran. Jangan khawatir,karena yatai ini sudah mendapat izin mengenai kebersihan nya dari pemerintah kota.

 
JapanSuki © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets